"Nomiii... ayo buruan, ntar kamu telat!" ibu sudah memanggil ku dari bawah, itu tandanya mobil sudah siap, dan aku harus segera turun ke bawah. "Pagi buu" sapaku."Heii... pagi..ayo cepat habiskan makanan mu! Ayah sudah menunggu mu di luar!" ucapan ibu tadi langsung membuatku tersedak! APA YANG IBU BILANG? AYAH SUDAH MENUNGGU KU??
"Lho? Ada apa? kok tidak kamu habiskan? cepatt nanti kamu telat!" ibu nampaksedang bersiap-siap ke kantor.
"I..ibu.."ucapku.
"Ya?"
"Yang mengantarku ke sekolah bukan ibu?" pertanyaan ku tadi sontak membuat ibu yang tadi sedang sibuk memakai eyeshadow langsung berhenti. "I.. iyaa soalnya ibu ada rapat penting pagi ini dan mesti pergi lima menit lagi! jadii ibu suruh orang untuk mengantarmu.."jelas ibu.
"Tapi kenapa mesti Ayah?" ya Ampunn tak pernah aku berfikir akan bertemu lagi dengan ayah setelah ibu memutuskan bercerai dengan ayah 3 tahun lalu. "Sayang... ibu tau kamu masih marah tentang perceraian ayah dengan ibu..tapi itu sudah lama, dan sekarang kita pindah ke Indonesia supaya bisa memulai hidup yang baruu.."
"LALU KENAPA AYAH ADA DISINI?!" amarah ku tak dapat kubendung lagi.
"Karna ibu tidak mau kamu terus-terusan membenci ayahmu.."ibu mulai mencoba memelukku.
Aku langsung menepis pelukan ibu dan berlari ke kamarku.
" Sayang buka pintunya.." Ibu mengetuk pintu kamarku berkali-kali berharap aku mau keluar dari sana. "PERGI!" teriakku. Ibu tampak kaget mendengar aku berteriak begitu padanya. Aku pun langsung membenamkan wajahku kebantal.
" Aku bukannya benci ayah, tapi aku benci dengar orang-orang ngomongin ayah!" batinku. Ya, ayahku itu seorang Aktor ternama yang cukup terkenal di Jepang. Ia juga sering memerankan beberapa tokoh utama di sebuah film.
Yaahh bisa dibilang ayahku itu cukup berbakat dalam hal akting, sudah banyak piala-piala penghargaan jatuh ketangannya. Bahkan, banyak orang dan media sering memuji prestasinya dalam dunia akting. Yaa aku sebagai anaknya pun turut bangga punya ayah yang sangat berbakat itu, sampai suatu hari... ada seorang aktris yang iri melihat kesuksesan ayahku di layar kaca, dan supaya pamornya naik, ia pun mulai mendekati ayahku.
Dan tentu, media pun bisa mencium itu! Dan ia pun mulai membuat sensasi dengan menyebut bahwa ia penah pergi berdua lah, makan berdua lah, dan masih banyak lagi! Itu sih masih bisa aku maklumi karna ayahku seorang aktor, pasti sering dekat dengan banyak wanita. Tapi, ternyata wanita itu masih belum puas akan ketenarannya, dan ia pun mulai mengajak ayahku kesebuah bar yang terletak di kawasan kota Hiroshima. Ia pun mulai menyodorkan minuman ke ayahku. Awalnya ayahku menolak, karna ia sudah menjadi seorang mualaf. Tapi wanita itu terus membujuknya sampai akhirnya ayahku pun tergoda untuk mencicipi minuman haram itu. Sampai akhirnya ayahku mabuk dibuatnya. Ia pun mulai membawa ayahku kesebuah hotel dan menidurkannya disana. Hingga sampai pagi datang, ayahku baru terbangun, ketika ia membuka matanya, betapa kagetnya ia melihat seorang mayat wanita terbujur kaku dengan sebuah bekas luka tusukan di perutnya dan luka lebam dipipinya, dan parahnya lagi, mayat itu tak berpakaian sama sekali! Itu jelas membuat tuduhan langsung mengarah ke ayahku yg saat itu ada di kamar itu, polisi akhirnya mulai mengolah tkp tersebut dan terdapatlah sebuah pisau dengan sidik jari ayahku disitu. Akhirnya ayahku pun dibawa kekantor polisi dan dijatuhkan vonis 5 tahun penjara oleh kejaksaan.
Ibu yang mengetahui bahwa ayah masuk penjara pun langsung menceraikan ayah dan langsung membawaku pindah pergi meninggalkan Jepang dan menetap di Indonesia. Awalnya aku fine-fine aja tinggal di Indonesia, karna selain itu kampung tempat ibuku lahir, aku juga bisa menikmati pemandangan alamnya.
Tapi semua terasa memuakkan ketika teman-temanku di smp mulai meneriaki ku dengan sebutan 'anak mafia' terus.. sampai aku memasuki sma. Ya, waktu itu aku mau menuju kesekolah ku seperti biasa, aku pergi menggunakan sepeda. Di tengah perjalanan tiba-tiba sebuah mobil mendadak berhenti didepanku, aku yang waktu itu sedang ngebut, akhirnya tak bisa mengelak dan langsung terpental ke aspal jalanan. Aku meringis nyeri menahan sakit di tanganku. Yang empunya mobil langsung keluar dari dalam mobil dan menghampiriku. "Eeh maaf, adek gak papa kan??" tanyanya panik. "Duuh.. pak! kalo mau ngerem jangan mendadak dong! Kan bahaya orang yang dibelakang!"seruku sambil terus meringis. "I.iya soalnya tadi ditengah jalan ada kucing lewat dekk... maaf yaa! Dan o ya, nama adek siapa?"
"Chisaki Nomi!" jawabku ketus.
"Apa?"
"CHISAKI NOMI!!! BAPAK BUDEK AMAT SIH!" teriakku emosi. "Tunggu.. tunggu... maksud kamu, Chisaki? Kamu anak dari Chisaki yamada?? Anak dari artis mafia Jepang itu?? AH! KALO GITU SAYA GAK JADI NOLONGIN KAMU! Ngapain juga saya nolongin anak mafia macam kamu! Huhh... percuma saya buang-buang waktu buat ngobrol sama kamu!!" setelah memaki aku, bapak itu langsung masuk kemobilnya dan melesat pergi. Tinggal aku yang hanya bisa melongo, tidak percaya dengan apa yg aku dengar barusan. "Heh, lagi-lagi anak mafia..." batinku. Perlahan-lahan air mata ku mengalir. "Kenapa sihh.. kenapa orang-orang pada benci banget sama ayah? Kenapa.. kenapa mesti aku yang kena imbasnyaa..." isakku. Setelah beberapa lama aku terduduk, aku pun bangkit dan berjalan teseok-seok ke arah got (tempat sepedaku jatuh tadi).
Aku pun meloncat masuk ke dalam got yang lumayan besar itu.
"Uggh.. jadi parah gini.." gerutuku.
"Perlu bantuan?" tiba-tiba di depan sudah berdiri seorang cowok berpostur besar dan tinggi yang sedang mengulurkan tangannya. Aku pun menyambutnya. "Makasih.." ucapku lirih. Dia memandang ku dari atas sampai bawah. "Kamu..." katanya. Aku langsung menutup telingaku kuat-kuat.
"Eh, kamu kenapa?" tanya nya. Aku menggeleng kuat.
"Aku..." aku pun buka suara. "Kamu kenapa?" tanyanya menunduk melihat wajahku.
"Aku gak mau lagi denger orang-orang ngatain aku lagii.." ucapku terisak.
"Aku..."sambungku. "Takut..."aku langsung terduduk lemas di aspal. Cowok itu yang tadinya bingung melihat ku pun langsung tersenyum memandangku. "Semua orang... juga pernah ngalamain kok..".
Ngalamin sakitnya di hina, sakitnya dikhianati, sakitnya di bohongi... semua orang pasti pernah ngalamin apalagi kalo berhubungan degan orangtua kitaa.." kali ini aku benar-benar mengangkat wajahku dan memandangnya dalam. "Kamu takut orang-orang mengatai ortu mu? Memangnya mereka tau apa? Yang lebih tau orangtuamu kan cuma kamu!"
"Lagian.." sambungnya. "Orangtua adalah pahlawan super yang selalu siap melindungi kita kapanpun dan dimana pun!"
Aku terpaku. Bener juga sih... tapi..
"LO TU GAK TAU GIMANA RASANYA JADI GUE!" aku pun segera mengayuh sepedaku cepat-cepat meniggalkan cowok tadi. "Hufft.. siapa sih tu cowok? Nyebelin banget!" aku terus mengayuh sepedaku melewati padatnya kendaraan pagi ini.
Aku langsung menepis pelukan ibu dan berlari ke kamarku.
" Sayang buka pintunya.." Ibu mengetuk pintu kamarku berkali-kali berharap aku mau keluar dari sana. "PERGI!" teriakku. Ibu tampak kaget mendengar aku berteriak begitu padanya. Aku pun langsung membenamkan wajahku kebantal.
" Aku bukannya benci ayah, tapi aku benci dengar orang-orang ngomongin ayah!" batinku. Ya, ayahku itu seorang Aktor ternama yang cukup terkenal di Jepang. Ia juga sering memerankan beberapa tokoh utama di sebuah film.
Yaahh bisa dibilang ayahku itu cukup berbakat dalam hal akting, sudah banyak piala-piala penghargaan jatuh ketangannya. Bahkan, banyak orang dan media sering memuji prestasinya dalam dunia akting. Yaa aku sebagai anaknya pun turut bangga punya ayah yang sangat berbakat itu, sampai suatu hari... ada seorang aktris yang iri melihat kesuksesan ayahku di layar kaca, dan supaya pamornya naik, ia pun mulai mendekati ayahku.
Dan tentu, media pun bisa mencium itu! Dan ia pun mulai membuat sensasi dengan menyebut bahwa ia penah pergi berdua lah, makan berdua lah, dan masih banyak lagi! Itu sih masih bisa aku maklumi karna ayahku seorang aktor, pasti sering dekat dengan banyak wanita. Tapi, ternyata wanita itu masih belum puas akan ketenarannya, dan ia pun mulai mengajak ayahku kesebuah bar yang terletak di kawasan kota Hiroshima. Ia pun mulai menyodorkan minuman ke ayahku. Awalnya ayahku menolak, karna ia sudah menjadi seorang mualaf. Tapi wanita itu terus membujuknya sampai akhirnya ayahku pun tergoda untuk mencicipi minuman haram itu. Sampai akhirnya ayahku mabuk dibuatnya. Ia pun mulai membawa ayahku kesebuah hotel dan menidurkannya disana. Hingga sampai pagi datang, ayahku baru terbangun, ketika ia membuka matanya, betapa kagetnya ia melihat seorang mayat wanita terbujur kaku dengan sebuah bekas luka tusukan di perutnya dan luka lebam dipipinya, dan parahnya lagi, mayat itu tak berpakaian sama sekali! Itu jelas membuat tuduhan langsung mengarah ke ayahku yg saat itu ada di kamar itu, polisi akhirnya mulai mengolah tkp tersebut dan terdapatlah sebuah pisau dengan sidik jari ayahku disitu. Akhirnya ayahku pun dibawa kekantor polisi dan dijatuhkan vonis 5 tahun penjara oleh kejaksaan.
Ibu yang mengetahui bahwa ayah masuk penjara pun langsung menceraikan ayah dan langsung membawaku pindah pergi meninggalkan Jepang dan menetap di Indonesia. Awalnya aku fine-fine aja tinggal di Indonesia, karna selain itu kampung tempat ibuku lahir, aku juga bisa menikmati pemandangan alamnya.
Tapi semua terasa memuakkan ketika teman-temanku di smp mulai meneriaki ku dengan sebutan 'anak mafia' terus.. sampai aku memasuki sma. Ya, waktu itu aku mau menuju kesekolah ku seperti biasa, aku pergi menggunakan sepeda. Di tengah perjalanan tiba-tiba sebuah mobil mendadak berhenti didepanku, aku yang waktu itu sedang ngebut, akhirnya tak bisa mengelak dan langsung terpental ke aspal jalanan. Aku meringis nyeri menahan sakit di tanganku. Yang empunya mobil langsung keluar dari dalam mobil dan menghampiriku. "Eeh maaf, adek gak papa kan??" tanyanya panik. "Duuh.. pak! kalo mau ngerem jangan mendadak dong! Kan bahaya orang yang dibelakang!"seruku sambil terus meringis. "I.iya soalnya tadi ditengah jalan ada kucing lewat dekk... maaf yaa! Dan o ya, nama adek siapa?"
"Chisaki Nomi!" jawabku ketus.
"Apa?"
"CHISAKI NOMI!!! BAPAK BUDEK AMAT SIH!" teriakku emosi. "Tunggu.. tunggu... maksud kamu, Chisaki? Kamu anak dari Chisaki yamada?? Anak dari artis mafia Jepang itu?? AH! KALO GITU SAYA GAK JADI NOLONGIN KAMU! Ngapain juga saya nolongin anak mafia macam kamu! Huhh... percuma saya buang-buang waktu buat ngobrol sama kamu!!" setelah memaki aku, bapak itu langsung masuk kemobilnya dan melesat pergi. Tinggal aku yang hanya bisa melongo, tidak percaya dengan apa yg aku dengar barusan. "Heh, lagi-lagi anak mafia..." batinku. Perlahan-lahan air mata ku mengalir. "Kenapa sihh.. kenapa orang-orang pada benci banget sama ayah? Kenapa.. kenapa mesti aku yang kena imbasnyaa..." isakku. Setelah beberapa lama aku terduduk, aku pun bangkit dan berjalan teseok-seok ke arah got (tempat sepedaku jatuh tadi).
Aku pun meloncat masuk ke dalam got yang lumayan besar itu.
"Uggh.. jadi parah gini.." gerutuku.
"Perlu bantuan?" tiba-tiba di depan sudah berdiri seorang cowok berpostur besar dan tinggi yang sedang mengulurkan tangannya. Aku pun menyambutnya. "Makasih.." ucapku lirih. Dia memandang ku dari atas sampai bawah. "Kamu..." katanya. Aku langsung menutup telingaku kuat-kuat.
"Eh, kamu kenapa?" tanya nya. Aku menggeleng kuat.
"Aku..." aku pun buka suara. "Kamu kenapa?" tanyanya menunduk melihat wajahku.
"Aku gak mau lagi denger orang-orang ngatain aku lagii.." ucapku terisak.
"Aku..."sambungku. "Takut..."aku langsung terduduk lemas di aspal. Cowok itu yang tadinya bingung melihat ku pun langsung tersenyum memandangku. "Semua orang... juga pernah ngalamain kok..".
Ngalamin sakitnya di hina, sakitnya dikhianati, sakitnya di bohongi... semua orang pasti pernah ngalamin apalagi kalo berhubungan degan orangtua kitaa.." kali ini aku benar-benar mengangkat wajahku dan memandangnya dalam. "Kamu takut orang-orang mengatai ortu mu? Memangnya mereka tau apa? Yang lebih tau orangtuamu kan cuma kamu!"
"Lagian.." sambungnya. "Orangtua adalah pahlawan super yang selalu siap melindungi kita kapanpun dan dimana pun!"
Aku terpaku. Bener juga sih... tapi..
"LO TU GAK TAU GIMANA RASANYA JADI GUE!" aku pun segera mengayuh sepedaku cepat-cepat meniggalkan cowok tadi. "Hufft.. siapa sih tu cowok? Nyebelin banget!" aku terus mengayuh sepedaku melewati padatnya kendaraan pagi ini.
****
Aku pun langsung memarkir sepedaku di depan halaman sekolah. Kulirik arloji ditanganku, 06.35. "Kayaknya aku kecepatan dehh..." sekolah gue sekarang lagi ada acara, jadi masuknya agak lama, sekitar jam 9.
"Duuh.. mesti kemana ya?? Ke rumah Difa gak mungkin, dia kan lagi jualan di pasar jam segini!" Difa itu adalah temenku yang pertama ketika baru menginjakkan kaki di sini. Dia anak bu Iyem, ibu kantin disekolah kami. Setiap jam istirahat, pasti bu Iyem mulai mesusun dagangannya. Walau terkadang anak-anak suka usil dengan mengambil dagangannya diam-diam lah, bayar cuma setengah lah, piring sering di senggol-senggol lah! Pokoknya banyak deh!
Terkadang aku suka kasian dengan bu Iyem. Apalagi ditambah matanya yang udah mulai rabun, jadi... dia sering gak liat ketika anak-anak itu pada nyolong dagangannya. Tapi, walau gitu.. ia punya seorang anak yang selalu setia menolongnya berjualan. Difa, anak yang baik dan pintar. Dia sering terlihat sedang membaca di bawah pohon mangga di sekolah kami (emg aneh ada pohon mangga di sekolah lupakan!) . Dia juga sering ngawas, kalo-kalo ada yang mengambil dagangan ibunya, ia gak akan segan-segan melapor ke kepala sekolah! Contoh anak yang budiman bukan?
Mungkin kalian heran, kenapa aku harus menceritakan mereka. Soalnya mereka akan jadi bukti untuk sebuah kebenaran di kehidupan ku kelak.
"Duuh.. mesti kemana ya?? Ke rumah Difa gak mungkin, dia kan lagi jualan di pasar jam segini!" Difa itu adalah temenku yang pertama ketika baru menginjakkan kaki di sini. Dia anak bu Iyem, ibu kantin disekolah kami. Setiap jam istirahat, pasti bu Iyem mulai mesusun dagangannya. Walau terkadang anak-anak suka usil dengan mengambil dagangannya diam-diam lah, bayar cuma setengah lah, piring sering di senggol-senggol lah! Pokoknya banyak deh!
Terkadang aku suka kasian dengan bu Iyem. Apalagi ditambah matanya yang udah mulai rabun, jadi... dia sering gak liat ketika anak-anak itu pada nyolong dagangannya. Tapi, walau gitu.. ia punya seorang anak yang selalu setia menolongnya berjualan. Difa, anak yang baik dan pintar. Dia sering terlihat sedang membaca di bawah pohon mangga di sekolah kami (emg aneh ada pohon mangga di sekolah lupakan!) . Dia juga sering ngawas, kalo-kalo ada yang mengambil dagangan ibunya, ia gak akan segan-segan melapor ke kepala sekolah! Contoh anak yang budiman bukan?
Mungkin kalian heran, kenapa aku harus menceritakan mereka. Soalnya mereka akan jadi bukti untuk sebuah kebenaran di kehidupan ku kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar